oleh

Bukan Sekadar Kram! Inilah Penyebab Tersembunyi di Balik Nyeri Haid

 

JABAR ONE – Nyeri haid atau dismenore adalah kondisi yang umum dialami oleh banyak wanita. Rasa tidak nyaman di perut bagian bawah ini sering dianggap sebagai bagian normal dari siklus menstruasi. Namun, tahukah kamu bahwa nyeri haid yang parah bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius?

Rasa sakit kram saat haid ini disebut dengan dismenore. Angka kejadian dismenore di Indonesia terdiri dari 54,89% dismenore primer dan 9,36% dismenorea sekunder. Gangguan ini ada dua bentuk yaitu dismenorea primer dan dismenorea sekunder. Dismenore (nyeri haid) merupakan gejala yang timbul menjelang dan selama mentruasi ditandai dengan gejala kram pada abdomen bagian bawah. 

1. Dismenore primer adalah nyeri haid yang kerap dialami banyak wanita. Nyeri ini muncul tanpa adanya gangguan kesehatan lain dan biasanya terasa di bagian bawah perut. Penyebab utamanya adalah peningkatan zat kimia bernama prostaglandin dalam tubuh. Zat ini memicu kontraksi otot rahim yang lebih kuat, sehingga menimbulkan rasa sakit yang cukup intens.

2. Dismenore sekunder berbeda dengan dismenore primer. Jika dismenore primer tidak memiliki penyebab medis yang jelas, dismenore sekunder justru muncul karena adanya masalah kesehatan lain. Misalnya, endometriosis, fibroid, atau infeksi pada organ reproduksi bisa menjadi penyebab nyeri haid yang lebih parah ini. Kondisi ini seringkali dialami oleh wanita yang sudah memasuki usia 40-an hingga 50-an.

Penyebab dari Nyeri Haid

1. Nyeri haid primer terjadi karena tubuh menghasilkan zat kimia bernama prostaglandin dalam jumlah yang berlebihan saat menstruasi. Zat ini memicu kontraksi otot rahim yang sangat kuat, sehingga menyebabkan rasa sakit.

2. Nyeri haid sekunder disebabkan oleh masalah kesehatan lain seperti endometriosis, fibroid, atau infeksi pada organ reproduksi. Kondisi-kondisi ini dapat menyebabkan peradangan dan iritasi pada organ reproduksi, sehingga menimbulkan rasa nyeri saat menstruasi.

Tanda dan Gejala Dismenore

a. Dimenore primer 

1) Usia lebih muda, maksimal usia 15-25 tahun

2) Timbul setelah terjadinya siklus haid yang teratur

3) Sering terjadi pada nulipara 

4) Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastic 

5) Nyeri timbul mendahului haid dan meningkat pada hari pertama atau kedua haid 

6) Tidak dijumpai keadaan patologi pelvic

7) Hanya terjadi pada siklus haid yang ovulatorik

8) Sering memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa 

9) Pemeriksaan pelvik normal 

10) Sering disertai nausea, muntah, diare, kelelahan, nyeri kepala 

b. Dismenore sekunder 

1) Usia lebih tua, jarang sebelum usia 25 tahun 

2) Cenderung timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur 

3) Tidak berhubngan dengan siklus paritas 

4) Nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul

5) Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah 

6) Berhubungan dengan kelainan pelvic 

7) Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi 

8) Seringkali memerlukan tindakan operatif 

9) Terdapat kelainan pelvic

Obat yang dapat dikonsumsi

Obat antiinflamsi nonsteroid (OAINS) seperti ibu profen, naproxen, atau asam mefenamat dapat membantu mengurangi peradangan dan nyeri

Pil kontrasepsi hormonal: Dapat mengurangi produksi prostaglandin dan meredakan nyeri

Obat pereda nyeri lainnya: Paracetamol atau obat – obatan lain yang lebih kuat dapat diberikan jika OAINS tidak efektif

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *