oleh

Kontroversi Keputusan Wasit IBL GoPay 2025: Sorotan Setiap Pekan dari Keputusan Kontroversial

JABAR ONE – Liga Bola Basket Indonesia (IBL) GoPay 2025 memberikan sorotan terhadap sejumlah keputusan wasit yang mempengaruhi jalannya pertandingan dalam beberapa pekan terakhir. Beberapa keputusan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pengambilan keputusan wasit di turnamen ini.

Pekan pertama: keputusan yang dipertanyakan
Pada laga antara Pelita Jaya Jakarta dan Dewa United Banten pada 11 Januari, wasit memberikan defensive foul kepada Kaleb Ramot Gemilang setelah terjadi kontak dengan James Dickey III di kuarter kedua. Namun, setelah melalui Instant Replay System (IRS), keputusan tersebut dinyatakan salah. Meski sudah terbukti tidak sah, wasit tidak bisa membatalkan foul tersebut.

Sementara itu, pada laga Borneo Hornbills vs Kesatria Bengawan Solo pada 12 Januari, insiden yang melibatkan Michael Qualls dinyatakan sebagai correct call. Qualls berhasil mengambil bola di bibir ring tanpa gangguan, sesuai dengan aturan FIBA OBR 2024.

Pekan kedua: keputusan terlewatkan
Di pertandingan antara Tangerang Hawks dan Borneo Hornbills pada 19 Januari, wasit melewatkan pelanggaran travelling oleh Brandon Lee McCoy sebelum mengoper bola pada kuarter keempat. Pelatih Tangerang Hawks mengajukan head coach challenge (HCC), namun aturan FIBA OBR tidak memungkinkan peninjauan ulang untuk pelanggaran travelling.

Pekan ketiga: permainan sah dan reaksi berlebihan
Pada laga Prawira Bandung melawan Dewa United Banten pada 26 Januari, wasit tidak memberikan pelanggaran saat Jacob Lobbu menyelamatkan bola yang hampir keluar lapangan. Walaupun aksi protes berlebihan dari pelatih Dewa United menghasilkan technical foul, keputusan tersebut dinyatakan sah sesuai dengan regulasi OBR Pasal 36.2.1.

Pekan keempat: insiden ayunan siku
Pertandingan antara Tangerang Hawks dan Bali United Banten pada 2 Februari menampilkan insiden ayunan siku oleh Jarred Shaw yang mengarah ke kepala Putu Pande. Setelah melalui head coach challenge, wasit memutuskan bahwa tindakan Shaw bukan pelanggaran. Evaluasi selanjutnya menyatakan keputusan tersebut salah, dan Shaw seharusnya dijatuhi unsportsmanlike foul.

Pekan kelima: foul yang seharusnya tidak dijatuhi
Di laga Pacific Caesar Surabaya melawan Satria Muda Pertamina Jakarta pada 7 Februari, AJ Bramah dijatuhi foul saat mencoba menghadang tembakan Le’Bryan Nash dalam vertical jump. Setelah review, keputusan tersebut dinyatakan salah karena Bramah masih berada dalam posisi guarding yang sah sesuai aturan FIBA OBR 2024.

Pekan ketujuh: kontroversi “15-5=11”
Keputusan yang terjadi pada laga Satria Muda Pertamina Jakarta melawan Tangerang Hawks pada 5 Maret menjadi kontroversial. Pada detik-detik akhir permainan, Stephaun Branch dari Hawks ditekan ketat oleh Randy Bell dan Abraham Damar Grahita. Wasit memberikan 5-second violation, tetapi setelah diperiksa, game-clock menunjukkan waktu 11 detik, bukan 10 detik seperti yang seharusnya terjadi. Keputusan ini menjadi viral dengan narasi “15-5=11” di media sosial.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *