oleh

Sidang Tesis Pascasarjana ISBI Bandung: Rizal Triana Rumuskan Model OBEL untuk Pembelajaran Kendang Sunda di SMK

JABAR ONE – Program Pascasarjana ISBI Bandung kembali mencatatkan capaian akademik melalui sidang tesis mahasiswa Rizal Triana (NIM 244243007) dari Program Studi Pendidikan Seni, Angkatan 1 Pascasarjana ISBI Bandung. Ia mengangkat judul “Implementasi Metode Oral Learning dalam Pembelajaran Kendang Sunda di SMK Negeri 5 Pangalengan.”

Sidang berlangsung dengan menghadirkan jajaran akademisi, di antaranya Dr. Asep Ganjar Wiresna, M.Sn. dan Dr. Sheila Kurnia Putri, S.IP., M.M. sebagai pembimbing. Sementara itu, posisi Ketua Sidang diemban oleh Dr. Otin Martini, M.Pd., dengan penguji ahli Dr. Heri Herdini, M.Hum. dan Dr. Suhendi Afrianto, S.Kar., M.M.

Kegiatan akademik ini juga berada di bawah kepemimpinan Rektor Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum., dengan Direktur Pendidikan Seni Prof. Dr. Jaeni, S.Sn., M.Si serta Wakil Direktur Pendidikan Seni Dr. Mohamad Zaini Alif, S.Sn., M.Ds yang terus mendorong penguatan riset berbasis seni tradisi.

Menjawab Tantangan Pembelajaran Seni Tradisi

Dalam paparannya, Rizal mengangkat persoalan mendasar dalam pembelajaran kendang Sunda di sekolah vokasi, mulai dari keterbatasan sarana praktik, latar belakang siswa yang beragam, hingga kebutuhan akan sistem pembelajaran yang lebih terstruktur.

Penelitian ini berfokus pada tiga rumusan utama: implementasi pembelajaran kendang Sunda, konstruksi model pembelajaran, serta analisis untuk merumuskan model inovatif berbasis pendekatan oral.

Berbasis Tradisi Lisan dan Teori Pendidikan Modern

Rizal mengintegrasikan konsep tradisi lisan dari Walter J Ong dengan pendekatan konstruktivisme sosial Lev Vygotsky serta teori experiential learning dari John Dewey dan David A. Kolb.

Pendekatan ini kemudian diuji melalui metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus di SMK Negeri 5 Pangalengan, menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis triangulasi.

Temuan: Proses Belajar Berbasis Mendengar dan Praktik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kendang Sunda berlangsung secara organik melalui tahapan mendengar, menirukan, mengulang, hingga latihan kelompok. Proses ini mencakup orientasi, demonstrasi, listening input, imitasi, koreksi lisan, hingga refleksi bersama.

Pendekatan tersebut terbukti efektif dalam membangun keterampilan teknik, sensitivitas musikal, serta pemahaman nilai budaya siswa.

Lahirnya Model OBEL

Puncak kontribusi penelitian ini adalah lahirnya model Oral-Based Experiential Learning (OBEL), sebuah kerangka pembelajaran sistematis yang menggabungkan kekuatan tradisi lisan dan pengalaman langsung.

Model OBEL terdiri dari lima tahapan utama:

  • Experiencing (apersepsi dan kesiapan belajar)
  • Listening Input (demonstrasi dan pengamatan)
  • Experimenting (imitasi dan eksplorasi)
  • Performing (aplikasi dalam konteks musikal)
  • Evaluating (refleksi dan umpan balik)

Model ini bersifat siklik dan adaptif, sehingga dinilai relevan untuk pendidikan seni vokasional.

Kontribusi bagi Pendidikan Karawitan

Rizal menegaskan bahwa kebaruan penelitiannya terletak pada sintesis antara metode oral learning dan experiential learning yang selama ini berjalan terpisah. Formulasi model OBEL diharapkan dapat menjadi acuan pedagogis dalam pengembangan pembelajaran karawitan, khususnya kendang Sunda di tingkat SMK.

“Model ini tidak hanya memperkuat aspek teknik, tetapi juga menanamkan rasa musikal dan nilai budaya yang menjadi ruh dari kesenian tradisi,” ungkap Rizal dalam sidang.

Menuju Standarisasi Pembelajaran Seni Tradisi

Dengan lahirnya model OBEL, Pascasarjana ISBI Bandung kembali menunjukkan perannya sebagai pusat pengembangan keilmuan seni berbasis kearifan lokal. Penelitian ini membuka peluang bagi standarisasi metode pembelajaran kendang Sunda yang lebih sistematis, tanpa meninggalkan akar tradisi lisan yang menjadi identitasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *