Sementara itu, Muhidin menyoroti dampak luas program ini terhadap perekonomian nasional. Selain menyediakan hunian yang layak dan terjangkau, program tersebut juga berpotensi membuka lapangan kerja serta menggerakkan sektor riil. Ia menegaskan kesiapan Perumnas dalam mendukung program melalui penyediaan lahan dan akses kepemilikan rumah bagi berbagai kalangan, mulai dari tenaga pendidik, tenaga honorer, PPPK, relawan SPPG, hingga masyarakat umum.
Dari sisi inovasi, Dadi Hermana mendorong integrasi konsep ketahanan pangan dan energi terbarukan dalam pengembangan kawasan perumahan. Ia memperkenalkan pendekatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) melalui model Sustainable Home Farming Area.
“Konsep ini tidak hanya memperkuat kemandirian pangan keluarga, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi rumah tangga, termasuk dalam menjaga kemampuan pembayaran cicilan rumah,” jelasnya.

Rapat ini turut melibatkan jajaran akademisi UKRI seperti Suryaman (Direktur Inkubator Bisnis), Bernard Nurman (Kaprodi Teknik Mesin), dan Irham (Kaprodi Teknik Industri), yang memperkuat posisi kampus sebagai pusat inovasi dan pengembangan solusi teknologi.
Kolaborasi ini menjadi penanda penting integrasi antara kebijakan publik, riset akademik, dan kebutuhan industri. Dengan sinergi yang terbangun, program 3 juta rumah diharapkan tidak hanya menghadirkan hunian, tetapi juga membentuk ekosistem kehidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.***

Komentar